Monday, March 10, 2003

Gay Wanita Lebih Berisiko Bunuh Diri..!



Menurut penelitian yang dilakukan Dr. Lisa L. Lindey dan rekan-rekannya dari Western Kentucky University di Bowling Green, mahasiwa wanita yang menyukai sesama jenis cenderung berisiko terjerumus pada gaya hidup membahayakan daripada kelompok pria homoseks.

Gaya hidup membahayakan tersebut misalnya: mengonsumsi narkotika, bunuh diri dan lainnya. Penelitian terhadap 927 lesbian dan pria homoseks di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kelompok lesbian rata-rata lebih banyak mengalami masalah dengan pasangan masing-masing daripada kelompok pria homoseks

Karenanya, Dr. Lisa menyarankan para pekerja sosial yang membantu kedua kelompok ini agar lebih memperhatikan para wanita lesbian. Selain kecenderungan berbahaya tersebut, dalam penelitian ini juga ditemukan beberapa perbedaan antara responden pria homoseks dan lesbian. Salah satu perbedaan itu adalah adanya orientasi dalam diri kelompok lesbian untuk mulai berhubungan seks saat usianya sudah agak lanjut, ketimbang kelompok pria homoseks.

Selain itu, kelompok lesbian cenderung kurang menyukai penggunaan kondom atau alat perlindungan lain dalam berhubungan seksual, entah itu secara vaginal atau seks anal. Kenyataan lain, menunjukkan bahwa para wanita lesbian tidak hanya tertarik pada sesama jenis, tetapi juga lawan jenis, yakni para pria. Hal ini tidak terjadi pada kelompok pria homoseks.

Hasil penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan "American Public Health Association" yang ke 130 di Philadelphia ini menyatakan bahwa kelompok lesbian kebanyakan adalah perokok, pengguna marijuana, obat-obatan terlarang, dan alat-alat yang membahayakan kesehatan lainnya, misalnya tato.

Penjelasan ini berbeda dengan penjelasan yang dikemukakan oleh Dr. Lindley tahun lalu kepada Reuter. Dalam penjelasan sebelumnya, justru ditemukan bahwa kelompok pria homoseks lebih banyak yang menggunakan marijuana daripada kelompok lesbian.

Lidley dan tim-nya menemukan bahwa 10% kelompok lesbian mencoba melakukan bunuh diri sepanjang tahun lalu. Pada kelompok pria homoseks hanya 4% yang mencoba tindakan itu


Thursday, January 23, 2003

Riset: Biseksual Cenderung Tidak Bahagia



Dapatkah Anda benar-benar melakukan dua praktek seks alias biseksual? Mampu melakukan hubungan seks dengan laki-laki dan perempuan dalam kehidupan Anda. Sebagian orang dapat. Biseksualitas, terutama pada perempuan semakin jelas terlihat dalam kultur populer, begitu dikatakan ahli psikologi dan terapi seks terkenal Joel D. Block Ph.D.

Pada bulan Juli 1995, majalah Newsweek mengungkapkan cover story tentang "identitas seksual baru", suatu petunjuk bahwa konsep biseksualitas telah banyak terjadi.

Salah satu arti kata "bi" dalam bahasa latin adalah dua. Biseksualitas berarti memiliki responsivitas seksual terhadap kedua jenis kelamin. Biseksualitas yang sejati, menurut Dr Block, lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.

Laki-laki normal biasanya akan menolak gagasan mencari pengalaman seksual dengan laki-laki lain. Sedangkan perempuan, meski pun tidak memiliki kecenderungan ke arah biseksualitas, tidak akan bereaksi secara berapi-api terhadap gagasan seksual dengan perempuan lain.

"Lebih mudah bagi perempuan heteroseksual memiliki hubungan sejenis, karena perempuan rata-rata memiliki persahabatan yang erat dan penuh perasaan dengan kawan perempuannya," jelasnya.

Terdapat beberapa alasan untuk mempercayai bahwa banyak orang memiliki suatu tingkat ketertarikan bawah sadar dengan kedua jenis kelamin. Sigmund Freud, berpendapat bahwa kita semua memiliki biseksual bawaan tetapi sebagian besar dari kita mengalami represi pada salah satu sisi.

Anda ingin tahu seperti apa kasusnya? Kira-kira seperti yang dialami seorang perempuan berikut ini:

"Saya mencintai pasangan laki-laki saya, tetapi tidak mendapatkan kepuasan emosional yang saya butuhkan darinya. Hubungan saya dengan seorang perempuan dimulai sebagai persahabatan. Dalam dua tahun kami semakin erat, dan sangat intim secara emosional. Kami menjadi tertarik secara fisik satu sama lain. Kemudian pada suatu hari, hal itu terjadi. Kami berciuman dan tidak berhenti sampai disitu…." (Secrets of Better Sex)

Apakah saat ini Anda menikmati hubungan itu friends? Tidak ada yang salah dengan itu, karena hak Anda untuk melakukannya. Tapi, selanjutnya Anda akan mengalami banyak masalah-masalah kesehatan. Sebab beban mental Anda jauh lebih berat dibandingkan mereka yang menjalani kehidupan heteroseksual atau homoseksual.

Studi yang dilakukan di Australia dan dipublikasikan pada bulan Mei 2002 ini dalam British Journal of Psychiatry menemukan bahwa orang dewasa yang menjalani kehidupan seksual ganda akan mengalami perasaan-perasaan seperti cemas, depresi dan rasa bersalah yang sangat mendalam.

Ok, sekarang Anda tahu yang muncul kemudian adalah rasa bersalah yang hebat. Perasaan bersalah pada pasangan kita dan perasaan cemas karena melakukan kehidupan seks tidak normal. Sama seperti yang dialami pasangan biseksual di atas setelah mereka melakukan hubungan intim?

"Kami berdua merasa malu dan bersalah setelahnya. Beberapa hari kami takut membicarakan hal itu. Itu bukan kebiasaan kami, karena kami selalu membicarakan segala sesuatunya secara langsung. Kami memutuskan tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi, tetapi kami kembali melakukannya. Hal itu telah berjalan bertahun-tahun sampai sekarang. Kami tidak berpikir untuk meninggalkan pasangan laki-laki kami. Ini hanya sesuatu yang kami butuhkan, sesuatu yang tidak kami dapatkan dari laki-laki."

Sayang, mereka memilih untuk mempertahankan hubungan itu. Tapi itulah pilihannya. Apakah mereka bahagia? Menurut penelitian, tidak sama sekali. Ini artinya mereka semakin memelihara rasa bersalah, cemas dan depresi dan membawanya terus menerus dalam kehidupan mereka.

"Masalah-masalah mental sangat mungkin terjadi, karena mereka kebingungan dan tidak memiliki orientasi seksual yang jelas, apakah ia homoseksual atau heteroseksual? Dan ini merupakan faktor pemicu stres, belum lagi perasaan bersalah atau tekanan dari lingkungan sosial-nya karena melakukan kehidupan seks yang berbeda dengan orang lain." kata pimpinan riset tersebut sebagaimana dikutip Reuters Health.

Kondisi yang sama juga dialami kaum homoseksual tapi tidak sehebat tekanan mental yang dialami kaum biseksual. Pada situasi yang semakin tidak terkendali para biseksual yang harus menjalani kehidupan seksual ganda -karena mereka juga punya pasangan resmi- akan semakin bingung dan cenderung melakukan usaha bunuh diri atau melukai diri sendiri secara sengaja (wah gawat..!)

Dalam penelitian yang melibatkan 4.824 biseksual berusia 20-44 tahun pada tahun 1999-2001, ditemukan: prosentase perempuan yang menjalani kehidupan biseksual jauh lebih besar dibandingkan laki-laki, bahkan dalam selisih angka yang cukup signifikan (angka tidak ditulis, karena akan memusingkan Anda membacanya).

Beban yang akan terus dipendam atau..?

Begitulah faktanya friends, misalnya masalah tersebut terjadi dalam kehidupan Anda saat ini, akankah kecemasan-kecemasan itu, rasa bersalah itu, akan terus dibiarkan menumpuk sampai Anda merasa tidak berdaya? Sampai Anda merasa lemah, payah, dan tidak sanggup menghadapi masalah tambahan betapa pun kecilnya.

Dalam keadaan ini, menurut para pakar psikologi, Anda merasa seolah-olah tidak mampu berbuat apapun, bahkan Anda tidak mampu mengendalikan hidup Anda sendiri dan selanjutnya Anda sungguh-sungguh demikian. Ini cara yang sangat tidak produktif untuk menghabiskan tahun-tahun terbaik hidup Anda. Maka, ini sesuatu yang perlu -dan dapat - diubah dengan segera.

Catatan: Sebaiknya Anda bertanya kepada diri sendiri apakah kecemasan, rasa bersalah, stres atau depresi yang timbul, cukup berharga untuk Anda pelihara. Anda harus memutuskan apakah akan menghabiskan sisa hidup Anda untuk rasa bersalah itu atau segera memutuskan untuk berbuat sesuatu guna mengatasinya. Ini keputusan yang sulit, tetapi mudah-mudahan Anda akan memilih yang belakangan. Begitu kan kawan..? (zrp)

Bicara Orientasi Seksual



Banyak orang melihat seks secara hitam putih Anda sepenuhnya heteroseksual atau homoseksual? Sekali berciuman, tidak menjadikan Anda gay atau lesbian.

Seorang gadis berusia 21 tahun, masih kuliah, secara tidak sengaja melihat sahabat perempuannya berciuman dengan temannya --yang juga perempuan. Ia bertanya, "Apakah itu bisa diartikan mereka lesbian?"

Ketika seseorang sekilas melihat perilaku seks seperti itu dan mulai bertanya-tanya: "Apakah dia gay?" atau, "Apakah teman saya lesbian?" --menurut pakar masalah-masalah seks dan perkawinan Louanne Cole Weston, PhD yang juga penulis buku Sex Matters-- bisa terjadi karena orang acap berpikir bahwa heteroseksualitas mereka telah tercemar hanya dengan melakukan –setidaknya sekali saja dalam hidupnya – pengalaman seksual dengan orang yang berjenis kelamin sama.

Banyak diantara kita melihat seksualitas secara hitam putih: Mereka berpikir Anda harus sepenuhnya (seratus persen..!) hidup sebagai heteroseksual atau menerima kenyataan lain – bahwa Anda adalah homoseksual. "Tetapi, saya akan mencoba melihat masalah ini dari sisi berbeda" tukas Weston.

Pertama, mengacu sebuah laporan singkat yang cukup bersejarah yang dibuat Alfred Kinsey pada tahun 1950-an melalui Kinsey Report-nya yang terkenal itu. Ia muncul dengan pemikiran bagaimana sebaiknya melihat seksualitas manusia, dan analisanya tersebut sangat berguna untuk bisa memahami seksualitas kita sendiri – terutama menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti yang diajukan si gadis di awal tulisan tadi.

Kinsey menggambarkan seksualitas manusia sebagai sebuah rangkaian yang merupakan kesatuan. Ia membaginya pada skala dari angka 0 hingga 6 dalam sebuah garis horisontal. Dikatakannya, orang disebut homoseks atau heteroseks ditentukan oleh besaran atau tingkatan orientasi seks-nya, baik itu dalam bentuk fantasi seksual atau dalam perilaku sesungguhnya.

Orang yang tidak pernah melakukan atau bahkan membayangkan sedikit pun, pengalaman seksual dengan orang lain yang berjenis kelamin sama, bisa diletakkan pada angka 0 pada skala Kinsey. Sebaliknya, mereka yang memiliki fantasi seksual dan menjalankan perilaku seksual hanya dengan orang-orang yang berjenis kelamin sama dimasukkan dalam skala tertinggi 6. Dan skala 3 yang merupakan pusat dari rangkaian ini adalah orang-orang yang merasakan ketertarikan seimbang, atau sama kuatnya, baik dengan yang jenis kelaminnya sama, mau pun terhadap lawan jenisnya.

Jadi, dengan pembagian tersebut ada sejumlah cara untuk memahami bagaimana seksualitas manusia. Dalam kasus si gadis tadi, dimana ia kepergok tengah berciuman dengan teman perempuannya, bisa diartikan ia tengah mengalami pergeseran dari angka 0 menuju angka 1 dalam skala Kinsey, karena ia mulai tertarik secara seksual dengan sesama jenisnya. Tetapi tidak bisa langsung divonis ia seorang lesbian dan dimasukkan dalam skala 6. Atau biseksual pada skala 3.

Banyak kemungkinan yang bisa terjadi:

Pertama. Setelah gadis itu berciuman dengan kawan perempuannya, bisa jadi –menurut Weston-- ia akan berkata pada dirinya sendiri: "Ok, saya telah mencobanya dan ternyata tidak benar-benar mendapatkan gairah seks atau ketertarikan secara seksual dengannya. Dan saya ragu apakah akan melakukannya lagi.." Bila keadaannya begini, gadis tadi masih dikategorikan sebagai heteroseks sepenuhnya, meski pun pernah mencoba cara lain.

Kedua. Setelah melakukan pengalaman tersebut, bisa jadi si gadis berkata begini: "Saya telah mencobanya dan ternyata saya suka dan cukup menikmatinya. Tetapi, sebaiknya aktivitas itu terjadi sebatas dalam dunia fantasi saja, tidak dalam dunia nyata. Sebab saya lebih suka menjalani kehidupan sebagai heteroseks ketimbang yang lain. Yang jelas saya jadi tahu, ternyata ada cara lain yang bisa membuat saya bergairah." Cukup sebatas itu, dan ia kemudian menjalani dan menikmati kehidupan-nya sebagai heteroseksual.

Ketiga. Bisa juga, setelah kejadian itu si gadis akan berpikir lebih ekstrim. "Ini sungguh-sungguh pengalaman luar biasa, dan saya ingin melakukan interaksi seks dengan sesama jenis untuk selanjutnya. Meski pun tidak sering, saya tetap merasakan ketertarikan itu, dan setidaknya mulai berpikir kemungkinan bahwa saya seorang biseks.

Pada kasus ketiga ini, sangat mungkin terjadi seseorang akan memulai babak baru dalam kehidupan seksnya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan dalam perkembangan selanjutnya ia akan menjadi homoseks sejati. Dalam hal ini hanya Anda yang bisa mendefinisikan apa dan bagaimana orientasi seksual Anda.

Melihat penjelasan Weston tadi, bisa disimpulkan bahwa memiliki fantasi atau pengalaman seks dengan orang yang berjenis kelamin sama tidak dengan sendirinya merupakan indikator homoseksualitas. Demikian pula eksperimen masa anak-anak atau remaja dengan seseorang yang berjenis kelamin sama. Tetapi, jika Anda merasa tertarik dan terangsang hanya dengan orang yang berjenis kelamin sama dan tidak pada jenis kelamin lain, Anda masuk dalam skala 6 Kinsey, Anda adalah seorang gay atau lesbian

Dalam kenyataannya, orientasi seksual bukan sesuatu yang hitam-putih. Kalau Anda heteroseks, kemudian suatu saat, dengan satu sebab tertentu, Anda melakukan sedikit penyimpangan, jangan biarkan orang lain atau bahkan diri Anda sendiri menvonis Anda sebagai homoseks. Andai, saat ini, Anda merasa tidak senang atau bingung dengan orientasi seksual Anda, para pakar dan ahli seks barangkali bisa membantu Anda dengan sebuah terapi khusus.

Seringkali pengalaman seksual sejenis terjadi begitu saja. Bisa disebabkan karena seseorang memaksakan kehendaknya kepada Anda, bisa pula alkohol atau obat-obatan mempengaruhi Anda. Ada juga yang berangkat dari hal yang sederhana, seperti hanya ingin mencoba-coba atau ingin tahu. Tetapi, kadang-kadang terjadi akibat adanya dorongan yang begitu hebat dalam diri seseorang untuk melakukan seks dengan pasangan sejenisnya. Hanya Anda-lah yang tahu mengapa itu terjadi, and what it truly means to you..! (zrp)

Saturday, January 04, 2003

Prof Dr dr I Made Subrata Bicara tentang Penyembuhan



KAUM gay umumnya dikenal sebagai sosok pria yang secara seksual cenderung menyukai pasangan sesama jenis kelamin. Namun, ada gay yang mampu keluar dari kehidupan seksual “menyimpang” itu. Rumah tangga bersama wanita pasangannya berhasil dirajut. Prof Dr dr I Made Subrata, MS, Sp.And, Spesialis Andrologi FK Unud, mengungkapkan ada pasiennya yang mengisahkan pengalaman serupa itu.

"Sebelum menikah dia mengaku sebagai gay. Lalu ia memperistri wanita. Hanya saja, dia tak bisa menghasilkan keturunan," ungkapnya. Ditambahkan seorang gay bisa saja berpotensi menjadi biseksual. Perilaku seksualnya bersifat ganda, yaitu gay dan hetero (kontak seksual secara normal dengan lawan jenis -red); menyenangi pasangan sesama jenis maupun lawan jenisnya.

Rata-rata suami yang sebelumnya hidup sebagai gay, memicu persoalan bagi istrinya. Wanita pasangannya cenderung tersiksa secara seksual. "Alasannya menikah mungkin hanya sebagai kompensasi. Hubungan seksual dengan istrinya sukar berlangsung secara normal," katanya.

Karenanya Subrata ragu atas kemampuan bekas gay untuk memiliki keturunan, meski tak terutup kemungkinan ada gay yang akhirnya bisa memiliki anak setelah menikah dengan wanita. Hal itu tergantung kesungguhan mengikuti proses pemulihan kesehatan reproduksinya. Faktor hormonal bisa menjadi salah satu pendorong pria menjadi gay. " Ada jenis hormon tertentu dalam dirinya yang lebih dominan. Risikonya orang tersebut cenderung memiliki orintasi seksual yang berbeda dengan kaum heteroseks," tandasnya.

Namun aspek medis tersebut bukan menjadi alasan tunggal. Faktor lingkungan dan mental psikologis lebih besar efeknya bagi terciptanya orientasi seksual kaum gay. Seseorang menjadi gay bisa dicermati dari dua penyebab. Pertama, bersifat temporer. Seseorang menjadi gay saat ia berada dalam lingkungan kehidupan sesama jenisnya.

"Seseorang yang mendekam di penjara hanya bersama pria lama-lama bisa saja memiliki perilaku seksual gay," ujarnya. Kedua,bersifat permanen, yakni seseorang berperilaku seksual gay sejak akil balig. Pilihan menjadi gay biasanya dalam waktu lama. Jika melepas ke-gay-annya ia sudah termakan usia saat menyulam tali pernikahan bersama wanita.

Ditegaskannya, mantan gay sudah 'berumur' yang menikah dengan wanita heteroseks berusia muda, nyaris tak memicu persoalan reproduksi seksual yang berarti. "Yang bermasalah jika wanitanya berumur di atas 35 tahun. Risiko keluhan pembuahan sel bisa terjadi. Kromosom bisa sobek dan menghasilkan kelainan pada anak," jelasnya. Namun, prosentase kasus serupa itu terbilang kecil.

Thursday, January 02, 2003

10 Situs Menarik tentang Penyembuhan



Apa itu reorientasi? Apa itu repatriasi? Bagaimana menjadi straight (kembali)? Untuk mencari informasi tentang itu semua, sungguh, bukan hal yang mudah di Indonesia. Bahkan dibanding dengan informasi mengenai homoseksual, informasi yang mengkhususkan diri untuk (kembali) menjadi straight bisa dibilang tidak ada. Yang ada barangkali hanya sejumput tanya jawab dalam rubrik konsultasi seksologi/psikologi dan itu pun mendapatkannya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Sebagai alternatif, apa daya, situs asing tetap menjadi pilihan utama. Meski dituduh sebagai negara sekuler, namun situs-situs asing tersebut tetap menawarkan semangat keberagamaan untuk kembali menjadi straight. Mereka bahkan menjalin kerjasama dengan majelis gereja untuk program pengobatan tersebut. Bagi Anda yang beragama Islam, tentu tidak menjadi soal melongok situs-situs tersebut sekadar sebagai pelajaran.

Sebanyak 10 situs yang layak Anda kunjungi antara lain:

1. www.newdirection.ca

Whether you have some general questions, experience same-sex attraction yourself, or just want to know how to relate better to those who do, we hope you will find this site encouraging and helpful.

2. www.freetobeme.com

Offering Christian support to men and women choosing to leave homosexuality, and equipping the church to minister effectively and compassionately.

3. www.bridges-across.org

Bridges-Across is a cyberspace initiative providing models and resources for building respectful relationships among those who disagree about moral issues surrounding homosexuality, bisexuality and gender variance.

4. www.becomingreal.org

Becoming the person God intends you to be

5. www.exgay.org

Ex-gays are men and women who no longer self-identify as homosexual or lesbian in their behavior or lifestyle, transgenders who have undergone reversal surgery, and questioning gays who seek the right to change their sexual orientation.

Situs ini mempunyai jaringan exgay di sejumlah negara atau yang disebut Gay Change Site Ring, misalnya saja www.exgay.org.uk, www.exgayman.org, dll.

6. www.exodusnorthamerica.org

Proclaiming, educating and impacting the world with the biblical truth that freedom from homosexuality is possible through a relationship with Jesus Christ

7. www.peoplecanchange.com

Men who have "come out" of homosexuality showing others the way. For those who seek similar life change, we share our experience and offer our support. Our motivation for sharing our stories and experience is simply to benefit those who now are where we were not that long ago, facing the pain and hopelessness of having homosexual desires we could not understand, did not choose, could not control -- and did not want.

8. www.gaytostraight.org dibangun oleh International Healing Foundation/IHF.

We believe that:
No one born homosexual
No one chooses to have same-sex attractions
Anyone can choose to change
What was learned can be unlearned
It’s not gay, nor bad, it’s SSAD
(Same-Sex Attachment Disorder)

9. www.narth.com
National Association for Research and Therapy of Homosexuality/NARTH

NARTH's primary goal is to make effective psychological therapy available to all homosexual men and women who seek change.

10. www.straight.org

New Insights on Sexual Identity
* Homosexuality is not inborn
* Homosexuality is not benign
* Homosexuality is not unchangeable

Tentu saja masih banyak situs penyembuhan/reorientasi lain yang "gentayangan" di dunia maya. Jika Anda menemukan yang menarik, jangan sungkan berbagi dengan kami! :)

Monday, December 30, 2002

Keberhasilan Penyembuhan Mencapai 70 Persen



Kita masih akan bicara tentang penyembuhan alias reorientasi alias repratiasi dari homoseksual berubah heteroseksual. Ini penting diketengahkan karena dengan adanya bukti-bukti penyembuhan, maka teori bahwa homoseksual adalah pemberian Tuhan yang bersifat kodrati, menjadi tersungkur.

Mari kita buka riset yang dilakukan Satinover. Dia melaporkan keberhasilan rata-rata treatmen penyembuhan pada mereka yang mengalami daya tarik sejenis yang tidak diinginkan mencapai 52%.

Master dan Johnson melakukan riset serupa dan mencatat keberhasilan penyembuhan mencapai 65% setelah 5 tahun follow up. Laporan-laporan riset profesional lain menyebut bahwa rata-rata keberhasilan penyembuhan berkisar 30-70%.

Apakah homoseksual itu abadi alias kekal? Hampir tidak. Ada banyak bukti menunjukkan bahwa daya tarik homoseksual dapat dikurangi dan perubahan dapat dibuat.

Ingin straight? Tunggu apalagi?! (Dialoh dari www.narth.com)

Berilah Hak untuk Sembuh



Kaum homoseksual berteriak agar diberi hak hidup seperti kaum heteroseksual yang lain, sudah biasa. Kampanye agar mereka diterima secara terbuka oleh masyarakat, juga sering kita dengar.

Uniknya, di negara Barat, kini ada juga kampanye agar mereka yang tidak merasa nyaman dengan orientasi homoseksualnya diberi hak untuk mencari kesembuhan. Bagaimana Indonesia? Oh, tentu saja itu masih jauh dari panggang api.

Bagaimana ceritanya hingga orang yang ingin reorientasi seksual harus diberi hak? Ikhwal cerita bermula dari kebijakan American Psychiatric Association (APA) yang mendelete klasifikasi homoseksual dari daftar penyakit mental pada 1973. Arsitek kebijakan ini adalah Dr.Robert Spitzer. Spitzer adalah seorang periset terkenal dari Columbia University. Spitzer sendiri adalah seorang psikiatris yang mendukung gay dan dalam waktu yang panjang mendukung penegakan hak-hak kaum gay.

Alasan dikeluarkannya homoseksual dari daftar penyakit mental adalah argumentasi bahwa homoseksual itu in born alias pemberian Tuhan, alias pembawaan alias gay gene. Dengan demikian, homoseksual tidak bisa disembuhkan dan bukan suatu penyimpangan.

Banyak psikiatri AS yang tak setuju pada kebijakan APA ini. Kebijakan ini dinilai terlalu terburu-buru dan menyebabkan riset ilmiah tentang apakah homoseksual bawaan atau bukan, menjadi tidak bergairah lagi. Kebijakan itu seolah menutup upaya untuk mencari jawab yang sebenarnya tentang homoseksual. Keputusan APA juga dinilai tidak berdasar bukti-bukti ilmiah.

Kebalikannya, keputusan APA disambut sukacita oleh kaum homoseksual. Mereka kian bersemangat untuk tampil dan memperjuangkan hak-hak yang selama ini dienyam kaum heteroksual seperti hak mengasuh anak, perkawinan, warisan,dll.

Kalangan ilmuwan yang juga aktivis gay mengakui bahwa peran mereka sangat tinggi dalam mendorong keluarnya keputusan APA itu. "Aktivis gay nyata-nyata adalah kekuatan yang menggerakkan APA untuk memindahkan homoseksualitas dari klasifikasi (penyakit mental)," aku Simon Le Vay, seorang ilmuwan yang juga aktivis gay.

Namun, masih ada juga ilmuwan yang mencoba membuktikan apakah homoseksual merupakan bawaan atau bukan. Hasil riset-riset yang cukup mumpuni dilakukan di era 90-an. Nama-nama seperti Bailey dan Pillard, Dean Hammer, dan Dr Rice, dan nama-nama lain, lekat dengan riset pembuktian gen dan homoseksualitas.

Hasilnya, riset-riset mereka tak satu pun yang mendukung bahwa gen mempunyai pengaruh determinan yang membuat seseorang menjadi homoseksual. Kalangan ilmuwan yang juga pendukung atau aktivis gay pun lambat laun banyak yang berganti pendapat dengan menyetujui bahwa homoseksual lebih dipengaruhi oleh lingkungan (kontruksi sosial) dibanding faktor genetika. Ini karena riset yang mereka lakukan pun tidak mendukung teori gay gene yang mereka pegang selama ini.

Dan karena faktor lingkungan lebih berperan, akibatnya, penyembuhan bukan tidak mungkin dilakukan. Seperti halnya ketergantungan narkoba, alkohol, merokok, yang disebabkan karena lingkungan dan bukan genetika, maka homoseksual bisa direorientasi.

Upaya reorientasi ini bisa dilakukan dengan treatmen psikologi maupun keagamaan. Di AS, upaya penyembuhan seperti ini banyak mendapat tantangan keras dari mereka yang tetap berkeyakinan bahwa homoseksual adalah pemberian Tuhan. Mereka menuduh treatmen penyembuhan tidak akan efektif dan hanya menimbulkan rasa sakit belaka.

Benarkah demikian? Dr Robert Spitzer, arsitek penghapus homoseksual dari daftar penyakit menyimpang APA, menolaknya. Setelah belasan tahun berlalu, Spitzer mengadakan studi tentang bisa tidaknya homoseksual disembuhkan.

"Saya telah yakin bahwa dari orang-orang yang telah saya interview, banyak di antara mereka yang telah membuat perubahan substansial dengan berubah menjadi heteroseksual. Saya rasa itu berita! Saya memulai studi ini dengan penuh keraguan. Sekarang saya mengklaim bahwa perubahan-perubahan itu dapat dibenarkan," begitu kesimpulan Spitzer.

Yang lebih menarik, pernyataan Spitzer pada jurnalis yang menanyakan padanya apa yang dia lakukan jika anak remajanya mengaku homoseksual. Spitzer menjawab bahwa dia berharap anaknya tertarik untuk berubah dan mendapatkan bantuan untuk bisa berubah.

Karena sikap Spitzer yang berubah 180 derajat terhadap isu homoseksual ini, dia pun mendapatkan banyak "surat kebencian" dan komplain dari kolega-koleganya.

Ingin kembali straight? Anda berhak melakukannya! (Diolah dari www.narth.com)

Friday, December 27, 2002

Riset Membuktikan Orientasi Seks Bisa Berubah



Bisakah orientasi seksual berubah? Studi Dr Lisa Diamond menjawab, bisa. Hasil studi Diamond selama 2 tahun menyatakan bahwa identitas, daya tarik dan perilaku seksual seseorang bisa “berubah-ubah”, khususnya kalangan biseksual dan lesbian.

Lisa Diamond dari Universitas Utah pada tahun 2000 menulis artikel berjudul Development Psychology. Ini merupakan hasil risetnya untuk membuktikan bisa tidaknya orientasi seksual berubah. Dia menyimpulkan bahwa ada keragaman identitas dan perilaku seksual di antara wanita non-heteroseksual sepanjang perjalanan hidup mereka.

Separo dari 80 lesbian, biseksual dan wanita “tidak diberi label” dalam studi Diamond, dalam 2 tahun mereka telah berganti identitas seksual lebih dari sekali. Wanita biseksual lebih mungkin untuk membuat pergantian signifikan dalam identitas dan daya tarik seksual. Sejumlah wanita mengaku memiliki identitas heteroseksual ketika remaja, tapi kemudian mengadopsi identitas biseksual atau lesbian.

Studi Dr Diamond ini bertentangan dengan statemen Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) yang menyatakan bahwa tidak ada bukti bahwa orientasi seksual bisa berubah.

Sunday, December 22, 2002

Runtuhnya Teori “Gay Gene”



Oleh: Jupiter Dan

Hingga kini, kalangan homoseksual pada umumnya mempertahankan pilihan orientasi seksualnya dengan dengan teori “gay gene”. Teori ini menyatakan, seseorang menjadii homoseksual karena bawaan. “Tuhan memberi kami begini sejak lahir,” begitu alasan terkuat mereka.

Ilmuwan pertama yang memperkenalkan teori “born gay” adalah ilmuwan Jerman, Magnus Hirscheld pada 1899. Dia menegaskan bahwa homoseksual adalah bawaan sehingga dan dia menyerukan persamaan hukum untuk kaum homoseksual..

Pada 1991, 2 periset Dr Michael Bailey & Dr Richard Pillard melakukan penelitian untuk membuktikan apakah homoseksual diturunkan alias bawaan.

Yang diteliti 2 periset ini adalah pasangan saudara –- kembar identik, kembar tidak identik, saudara-saudara biologis, dan saudara-saudara adopsi –- yang salah satu di antaranya adalah seorang gay.

Ringkasnya, riset itu menyimpulkan adanya pengaruh genetik dalam homoseksualitas. Mereka menyatakan, 52 persen pasangan kembar identik dari orang gay berkembang pula menjadi gay. Sementara hanya 22 persen pasangan kembar biasa yang menunjukkan sifat itu.

Sedangkan saudara biologis mempunyai kecenderungan 9,2%, dan saudara adopsi 10,5%. Sedangkan gen di kromosom yang membawa sifat menurun itu tak berhasil ditemukan.

Hasil riset di atas, meski menemukan adanya link homoseksual secara genetika, namun menyatakan bahwa gen bukanlah faktor yang dominan dalam menentukan homoseksualitas.

Dr Richard Pillard, seorang profesor psikiatri di Boston University School of Medicine menegaskan bahwa seksualitas lebih dipengaruhi oleh lingkungan dan peranan genetik sangat terbatas.

Pada 1993, riset ini dilanjutkan oleh Dean Hamer, seorang gay. Dia meneliti 40 pasang kakak beradik homoseksual. Hasil risetnya menyatakan bahwa satu atau beberapa gen yang diturunkan oleh ibu dan terletak di kromosom Xq28 sangat berpengaruh pada orang yang menunjukkan sifat homoseksual.

Riset Dean ini sangat “dipuja-puja” oleh kalangan homoseksual dan menjadi senjata terkuat mereka. Riset ini dianggap sebagai “penemuan ilmiah yang monumental.” Hasil riset ini meneguhkan pendapat kaum homoseksual bahwa homoseksual adalah kodrati, tak bisa dikatakan sebagai penyimpangan, dan tidak bisa dibenahi.

Meskipun Dean menyatakan homoseksual di kromosom Xq28 ditemukan, namun hingga 6 tahun kemudian, gen pembawa sifat homoseksual itu tak juga ketemu. Dan Dean Hamer mengakui bahwa risetnya itu tak mendukung bahwa gen adalah faktor utama/yang menentukan yang melahirkan homoseksualitas.

"Kami tahu bahwa gen-gen hanyalah bagian dari jawaban. Kami menerima bahwa lingkungan juga mempunyai peranan membentuk orientasi seksual.....Homoseksualitas secara murni bukan karena genetika. Faktor-faktor lingkungan berperan. Tidak ada satu gen yang berkuasa yang menyebabkan seseorang menjadi gay...saya kira kita tidak akan dapat memprediksi siapa yang akan menjadi gay."

Hamer juga menyebut bahwa risetnya gagal memberi petunjuk bahwa homoseksual adalah bawaan. "Silsilah keluarga gagal menghasilkan apa yang kami harapkan kami temukan: sebuah hukum warisan Mendelian yang sederhana. Pada faktanya, kami tak pernah menemukan dalam sebuah keluarga bahwa homoseksualitas didistribusikan dalam rumus yang jelas seperti observasi Mendel dalam tumbuhan kacangnya," tulis Hamer.

Teori “gay gene” kian runtuh ketika pada 1999 Prof George Rice dari Universitas Western Ontario, Kanada, mengadaptasi riset Hamer dengan jumlah responden yang lebih besar. Rice menyatakan, hasil penelitian terbaru tak mendukung adanya kaitan gen X yang dikatakan mendasari homoseksualitas pria.

Rice dan tiga koleganya memeriksa 52 pasang kakak beradik homoseksual untuk melihat keberadaan empat penanda di daerah kromosom. Hasilnya menunjukkan, kakak beradik itu tak memperlihatkan kesamaan penanda di Xq28 – yang sebelumnya dirilis oleh Dean Hamer, kecuali secara kebetulan.

Dengan data itu para peneliti Kanada tersebut menyatakan mereka dapat meniadakan segala kemungkinan adanya gen di Xq28 yang berpengaruh besar secara genetik terhadap timbulnya homoseksualitas. Namun demikian, menurut Rice, pencarian faktor genetik pada homoseksualitas terus berlangsung dan mereka juga sedang mencari kaitan pada kromosom lain. Meski demikian, hasil keseluruhan dari berbagai penelitian tampaknya menunjukkan kalaupun ada kaitan genetik, hal itu sangat lemah sehingga menjadi tidak penting.

Selain Prof Rice, hasil riset ini didukung oleh Prof Alan Sanders dari Universitas Chicago. Riset Sander yang tak dipublikasikan juga tidak mendukung teori hubungan genetik pada homoseksualitas.

Ruth Hubbard, seorang pengurus The Council for Responsible Genetics yang juga penulis buku Exploding the Gene Myth menyatakan bahwa pencarian sebuah gen gay, “bukan suatu usaha pencarian yang bermanfaat. Izinkan saya memperjelasnya: Saya tidak berpikir ada gen tunggal yang memerintah perilaku manusia yang sangat kompleks. Ada komponen-komponen genetik dalam semua yang kita lakukan, dan adalah suatu kebodohan untuk menyatakan gen-gen tidak terlibat. Tapi saya tidak berpikir gen-gen itu menentukan.” (Dari berbagai sumber)